Tampilkan postingan dengan label Kajian Ilmu Ghoib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Ilmu Ghoib. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2011

KAJIAN RUWATAN DIRI

RITUAL RUWAT DIRI PRIBADI





A. SYARAT MENGGELAR RITUAL RUWATAN DIRI PRIBADI : 

1. Ikhlas.
Melakukan dengan suka rela, percaya akan sebuah energi DOA dan Kuasa Tuhan YME.

2. Puasa.
Setiap peserta ruwat diharapkan berpuasa 1 hari (puasa weton). Atau melakukan puasa Dino dulur selama 3 hari, dimulai hari Selasa Kliwon. Puasanya seperti puasa ramadhan (makan buka-sahur boleh apa saja, yang penting baik dan halal). KHUSUS bagi yang sedang sakit diperbolehkan tidak melakukan puasa.

3. Beramal (donasi).
Menyediakan uang sedekah yang didonasikan kepada kaum fakir miskin atau orang yang membutuhkan. Nominal uang donasi bebas, sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan anda masing-masing. Donasi sedekah ini syarat WAJIB.

4. Syukuran (slametan)
Bila anda yang sanggup menyediakan syukuran berupa nasi, sayur, lauk pauk dan buah silahkan dibuat, minimal bisa dibagikan kepada 7 orang tetangga atau fakir miskin. Syukuran makanan ini TIDAK WAJIB. Hanya khusus bagi anda yang mampu dan ikhlas saja.

B. SARANA RUWATAN :

Setiap peserta bersedia menyediakan sarana RUWATAN sebagai berikut:
  • Air 7 sumber. Diambil dari 7 mata air. Atau bila kesulitan boleh juga air Sumur tanah dari tetangga sekitar. Pisahkan per sumber air dalam wadah yang berbeda. Jangan dicampur.
  • Bunga 7 macam. Jangan dicampur.
  • Wewangian. Boleh minyak parfum nonAlkohol (minyak bibit) atau kemeyan atau hio.
  • Kain Mori (putih polos) kira-kira 1 meter saja.
SARANA KHUSUS :
  • Bagi anda yang merasa kesulitan dalam hal jodoh menyediakan sarana berupa sepasang burung merpati (jantan dan betina). Bisa dibeli di pasar atau orang yang punya (peternak).
  • Bagi anda yang ingin meruwat rumah sendiri, sediakan tanah rumah 1 sendok makan, lalu dibungkus dalam kertas putih.
  • Bagi anda yang merasa sering sakit-sakitan menyediakan air hujan yang ditampung langsung tetesan dari langit.
  • Bagi anda yang merasa selama ini sulit menerima hidayah ilmu ghaib, susah belajar ilmu ghaib menyediakan sarana sebuah Kelapa Hijau Muda 1 butir.

TATACARA RUWAT DIRI PRIBADI

Langkah Pertama, PERSIAPAN :
  1. Sediakan 7 ember (tempat air).
  2. Isilah dengan air 7 sumber. Masing-masing ember diisi 1 sumber air. Jadi jangan dicampur.
  3. Kemudian taburi bunga. Masing-masing ember ditaburi 1 jenis bunga.
  4. Menghadap air bunga, dekatkan bibir anda dengan air bunga lalu ucapkan Asma: “Al-Hayyu” (Yang Maha Hidup) sebanyak 7 kali ulangan. Setelah selesai baca 7 kali kemudian pindah ke air bunga yang lain, lakukan hal yang sama. Demikian seterusnya sampai air bunga ketujuh.
  5. Kemudian Jemur air bunga ini dibawah sinar matahari sekitar 3 jam. Air bunga ini nantinya akan digunakan untuk Mandi Ruwat.

Langkah Kedua, DOA RUWAT :
  1. Sambil menunggu air bunga dijemur di sinar matahari, lakukan doa ruwat seperti berikut ini.
  2. Bagi yang muslim bersihkan diri dengan berwudhu. Bagi yang nonmuslim membasuh anggota badan kepala, tangan dan kaki. Biasanya kotoran & debu sering menempel dibagian badan itu.
  3. Duduk bersila, tenang dan khusuk. Semua sarana yang telah disediakan (tanah / kelapa hijau / air hujan / makanan syukuran / burung merpati) letakan di dekat anda. Bila doa ruwat dilakukan disebuah kamar, letakanlah semua sarana tersebut satu ruangan dengan anda. Sarana ditata yang rapi.
  4. Pakailah wewangian minyak non-alkohol. Atau bakarlah kemeyan atau hio.
  5. Mulai membaca doa ruwat sebagai berikut :
Awalilah dengan membaca kalam ilahi yang ada di kitab suci. Untuk muslim membaca surat Quran berikut ini. Bagi yang agama lain bisa menyesuaikan, yang penting membaca kitab suci.
  • S. Al Fatihah 7 kali atau 70 kali.
  • S. Al ikhlas 7 kali atau 70 kali
  • S. Al Falaq 7 kali atau 70 kali
  • S. An-Nas 7 kali atau 70 kali
  • S. Surat Yasin 1 kali
Bila tidak bisa membaca Quran, boleh hanya dengan mendengarkan audio MP3. Silahkan didownload disini.

Kemudian dilanjutkan dengan membaca Doa Ruwat berikut: Boleh dibaca teks Arab, boleh juga teks terjemahannya. Muslim dan Nonmuslim sama saja.

Doa Ruwat Pelepas Segala Kesulitan

 
Maha suci Tuhan yang menghilangkan kesusahan orang yang berhutang.
Maha suci Tuhan yang menggembirakan orang-orang yang sedang menderita kesusahan.
Maha suci Tuhan yang menjadikan perbendaharaan antara KAF dan NUN.
Maha suci Tuhan yang apabila DIA menghendaki segala sesuatu, hanyalah berkata kepadanya “Jadilah” maka jadilah.
Wahai Tuhan yang menggembirakan (kami) hilangkanlah segala kesusahan, hilangkanlah segala kesusahan yang kami derita, dengan kelapangan yang segera.
Wahai Dzat yang Maha Pengasih.


Doa Ruwat Mengusir Malapetaka

Wahai Pengampun kesalahan. Wahai penolak berbagai bencana. Wahai puncak segala harapan. Wahai penganugerah segala karunia. Wahai pemberi segala hadiah. Wahai yang memberi rezeki kepada manusia. Wahai yang memenuhi keinginan. Wahai yang mendengarkan keluhan. Wahai yang membangkitkan manusia. Wahai yang membebaskan para tawanan.

<<< Disini bisa ditambahkan rafal Aji Kalacakra >>>

Doa Ruwat Penolak Kesialan

اَللّٰهُمَّ لَايُؤْتِى اْلخَيْرَ اِلَّااَنْتَ وَلَايَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ اِلَّااَنْتَ ، وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ اِلَّابِكَ

Ya Allah, tiada datang kebaikan kecuali dariMU dan tidak yang menolak keburukan kecuali Engkau. Dan tiada daya dan upaya kecuali juga dari-Mu.

Doa Ruwat Tolak Bala’

اَللّٰهُمَّ اِدْفَعْ عَنِّى اْلبَلَاءَ

Ya Allah, singkirkanlah dariku segala bencana. (3x)

6. Bacalah Doa ruwat diatas dengan khusuk, jangan tergesa-gesa. Resapi dan hayati sepenuh hati semata-mata mengharap ridho dan pertolongan ilahi.

7. Setelah selesai pembacaan, lalu guntinglah rambut anda beberapa helai. Bungkus potongan rambut dengan kertas putih.

8. Setelah pembacaan Doa Ruwat dan pemotongan rambut, lalu langkah berikutnya adalah mandi ruwat.

Langkah ketiga, MANDI RUWAT :
  1. Sebelum melakukan mandi bacalah Doa-Mantra berikut ini : “Sun lelaku penyucen kanggo ragaku, jiwoku lan sukmoku kersaning Gusti Kang Murbeng Dumadi”. (Aku bersuci untuk ragaku, jiwaku dan sukmaku sesuai kehendak Tuhan Yang Maha Esa).
  2. Bagi yang tidak bisa bahasa Jawa bacalah teks Indonesianya.
  3. Cara mandi: Guyur badan 7 kali, masing-masing ember 1 kali. Guyur pelan-pelan seperti jatuhnya air pancuran.
  4. Setelah selesai mandi kemudian anda pakai pakaian yang bersih (disarankan memakai pakaian warna polos, diutamakan putih). Sebab kombinasi warna bisa memberikan efek gelombang energi metafisika yang berbeda-beda terhadap pemakainya.
  • INGAT! Setelah mandi, bunga yang terjatuh / tercecer dilantai diambil kembali, kumpulkan dalam wadah. Begitupula dengan sisa bunga dalam air ember. Nantinya bunga ini akan di larung (di buang / hanyutkan) di sungai. Hal ini didasarkan pada “sengkala” (nasib buruk, dosa, sifat buruk dan nafsu angkara murka) harus harus di buang jauh dari dalam diri manusia. Larung dimaknakan di buang jauh. Sedangkan sungai (muaranya menuju lautan bebas) sebagai simbol dunia luas dan tak terbatas
  • Jangan sampai ada bunga yang dibuang di closed kamar mandi atau saluran septitank atau tempat sampah, efeknya tidak baik untuk keberuntungan rumah dan penghuninya.

Langkah keempat, MELARUNG SENGKOLO SECARA SIMBOLIK

1. Yang akan dilarung adalah sisa-sisa bunga 7 rupa (setelah dipakai mandi ruwat) dan potongan rambut. Bungkus jadi satu dengan kain mori yang telah disediakan.

2. Saat akan melarung di sungai bacalah niat dan doa berikut :

“Ingsun ora buang Mori lan isine, ananing buang apa kang ndadeake apesing awakku” (Aku tidak membuang mori beserta isinya, tetapi aku membuang apa yang menjadikan kesialan pada diriku).
“Mumuring Sengkolo kekarepaning dzat atiku” (Larutnya Sengkolo karena kehendak sejatinya hatiku).

3. Bagi anda yang menyediakan syarat khusus:

- Sepasang burung merpati

Setelah melarung bungkusan Mori diatas, kemudian dilanjutkan dengan melepas sepasang burung merpati ke alam bebas. Saat melepaskannya bacalah Doa Mantra: “Mumuring Sengkolo kekarepaning dzat atiku” (Larutnya Sengkolo karena kehendak sejatinya hatiku)
Sepasang merpati adalah simbol perjodohan dan kasih sayang. Dengan memberikan kebebasan & kebahagian hidup kepada sesama makhluk Tuhan, harapannya anda pun kelak akan mendapatkan kebahagiaan yang sama.

- Sarana yang berupa Tanah, dikembalikan ke tempat asalnya (dipendam). Baca doa-mantra seperti diatas. Semoga tempat tersebut kembali berkah dan menguntungkan.

- Sarana Air kelapa Hijau diminum.

Air kelapa hijau diyakini memiliki tuah kekuatan spiritual, maka banyak digunakan sebagai sarana pengisian ilmu ghaib. Tetapi dari pengalaman saya tidak baik dijadikan sarana bagi mereka yang menginginkan keturunan / anak (momongan).

- Sarana Air hujan diminumkan kepada orang yang sakit.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Jibril mengajariku obat yang tidak memperlukan obat yang lain.” Beliau ditanya: “Ya Rasulullah saw apa obat itu?” Beliau menjawab: “Hendaklah air hujan diambil sebelum jatuh ke tanah kemudian diletakan di bejana yang bersih dan dibacakan surat Al Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas sebanyak 70 kali. Lalu hendaklah airnya itu diminum segelas diwaktu pagi dan sore. Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, sungguh Allah akan menghilangkan penyakit itu dari badan orang yang meminumnya.”

- Sarana uang.

Uang yang diniatkan untuk infak didonasikan / disumbangkan kepada fakir miskin yang membutuhkan. Semoga rejeki anda kelak semakin lancar dan hidup berkecukupan.

Langkah Terakhir, Menjalankan PUASA
  • Setelah selesai acara ruwat diatas, terakhir anda kemudian menyatakan niat berpuasa. Lafal niat puasa bebas, yang penting ikhlas berpuasa karena Tuhan YME.
  • Puasa dimulai saat Maghrib (terbenam matahari). Berakhir saat maghrib hari berikutnya. Puasa boleh seperti Ramadhan, boleh juga Puasa Mutih.
  • Bagi yang melaksanakan Ritual Ruwatan ini menjelang Weton maka laksanakan puasa cukup 1 hari (jatuh weton).
  • Bagi yang menjalankan Ritual Ruwatan di hari Senin menjelang Selasa Kliwon, maka melaksanakan puasa Dino Dulur selama 3 hari, dimulai Selasa Kliwon.
Yang dilakukan dalam masa puasa dan yang menjadi hikmah puasa ini adalah sebagai berikut:
  1. Cegah makan : Puasa di siang hari, boleh makan di malam hari tetapi ala kadarnya (kecuali yang telah bertekad Puasa Mutih).
  2. Cegah tidur artinya tidurlah selepas tengah malam dan bangunlah sebelum matahari terbit. Dan siang hari tidak boleh tidur.
  3. Tapa Mbisu (mesu budi anyipta rahayuning badan) artinya mulai bangun pagi saat terbit matahari menciptakan keseimbangan badan dengan tolong menolong kepada orang lain.
  4. Wahdat, artinya mengurangi dan mengendalikan nafsu seks.
  5. Sabar dalam menjalani kehidupan.
Sedangkan amalan doa-mantra / wirid yang biasa kami lakukan saat berpuasa selepas Ruwat adalah mengamalkan DOA NUR dan Aji Kalacakra.

Demikian tatacara Ritual Ruwatan. Pahami dengan baik dan laksanakan dengan penuh keyakinan dan penghayatan. Ingatlah, bukan berarti dengan sekali melakukan ritual ruwatan kita akan terbebas dari sengkala selamanya, tidak demikian. Sengkala dan kesialan akan bisa datang lagi kapan saja, maka setelah melakukan ritual ruwatan, jalankanlah 5 kebaikan seperti telah dijelaskan diawal. Segala kebaikan kelak akan membuahkan kebaikan juga. Semoga bermanfaat.

                     ttd




            Ki Syah Rizal

MENGIJAZAH MURID

MENGIJAZAHKAN KEMBALI ILMU GHOIB PUTIH


Assalamualaikum. Salam Budi Suharna.
 
Mau tanya : setelah saya dapat ijazah dari Ki Syah  (menjadi Pewaris), bolehkah saya mewariskan kembali semua ilmu yang ada di blog ini? Ataukah hanya ilmu yang dikirim lewat paket email saja yang boleh saya wariskan? Dan boleh tidak mewariskan ilmu tanpa pernah kita mengamalkannya terlebih dahulu??
(Diposting di Forum halaman IJAZAH ILMU)

Jawab :

Wa alaikum salam wrwb
Setiap Pewaris berhak atas semua keilmuan Ilmu Ghoib Putih. Dan memiliki wewenang diperbolehkan mengijazahkan ilmu dari Ilmu Ghoib Putih ini kepada orang lain. Tetapi saya tetap menyarankan bila Pewaris hendak mengijazahkan ilmu kepada orang lain maka ijazahkan terlebih dulu ilmu-ilmu yang pernah diamalkan.

Memberi ijazah berarti siap untuk membimbing juga. Oleh sebab itu ijazahkan amalan-amalan yang pernah anda amalkan saja dulu. Setidaknya dengan pernah mengamalkannya anda tahu dan pernah merasakan sendiri segala apa yang terjadi dengan amalan tersebut. Dari pengalaman itu anda bisa membimbing murid dan orang yang diberi ijazah ilmu.

Selanjutnya, jangan mengijazahkan amalan-amalan yang pernah anda rasakan memberi efek tidak baik. Itu tanda penguasaan ilmu anda belum sempurna atau memang ilmu tersebut tidak berjodoh dengan diri anda.

Saya pernah mengamalkan berbagai macam ilmu, tetapi tidak semua ilmu itu saya ijazahkan kepada para Pewaris. Sebab saya pernah merasakan efek konsekuensi ghaib yang tidak bagus selama mengamalkan ilmu tersebut. Sebagai solusinya bila ada orang yang meminta ilmu tersebut maka saya sarankan untuk berguru kepada orang lain yang lebih menguasainya. Kita tidak usah sok tahu ataupun sok bisa (merasa paling bisa). Sebagai spiritualis, kejujuran & mawas diri itu penting.

Contoh kasus : Misal ada orang yang meminta Ilmu pengasihan, sementara anda tidak ahli dalam ilmu ini, maka sebaiknya arahkan orang tersebut untuk berguru kepada Guru lain yang lebih ahli dalam bidang ilmu Pengasihan.

Pernah suatu ketika ada sedulur yang meminta ilmu Asma Singa Rajeh Kubro. Walaupun saya tahu lafadz Asma tersebut, namun saya belum pernah mengamalkannya, jadi saya rekomendasikan untuk berguru kepada salahsatu sesepuh KWA yang saya tahu pernah mengijazahkan ilmu tersebut.

Selama pengembaraan saya, jarang sekali ada Guru yang bisa menguasai berbagai cabang ilmu hikmah dengan sempurna sekaligus. Biasanya mereka memiliki spesialisasi sendiri-sendiri. Ada yang ahli dibidang Pengobatan, ahli Olah kanuragan, ahli bidang Pengasihan, Kerejekian, Kewaskitaan dan lain sebagainya.
Tidak menutup kemungkinkan bahwa diantara Pewaris nantinya juga akan menemukan keahliannya sendiri-sendiri.
Jadi jangan buru-buru menjadi seorang pengijazah ilmu hikmah. Lebih baik fokus pada penempaan diri pribadi hingga matang daripada menjadi guru pengijazah tetapi seperti “tong kosong nyaring bunyinya”.

Kelak bila telah melangkah di level Master barulah boleh bebas mengijazahkan ilmu apapun. Seperti para Guru Sejati, Mursyid, Nabi, Rasul, Wali, Syekh mereka ada di tingkat master. Tingkatan seorang spiritualis yang telah dapat mengerti keadaan diri setiap muridnya, sehingga setiap amalan yang mereka ijazahkan hampir 99% selalu tepat dengan diri sang murid. Tidak ada kotradiksi dan tidak ada konsekuensi negatif, intinya amalan ilmu cocok dan selaras dengan diri sang murid. Walaupun para Guru Sejati tersebut belum pernah mengamalkannya, sebab ilmu hikmah yang diijazahkan biasanya merupakan petunjuk dari Tuhan YME. Untuk mengerti hal ini membutuhkan proses perjalanan ruhani. Cepat atau lambat? hanya Tuhan yang tahu. Tetapi barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam perjalanan spiritualnya niscaya kelak ia akan memetik hasil dari kesungguhannya itu.

Setidaknya syarat sebagai seorang Guru ilmu hikmah adalah orang yang telah terbuka hijab dirinya. Artinya telah mengenal jatidirinya sendiri (Ingsun Sejati), sehingga terlihat jelas pondasi hidupnya yang mantap dan mapan. Fundamental hidupnya kuat tidak mudah goyah atau tidak mudah terbuai oleh pengaruh argumentasi orang lain (refleksi ingsun sejati berbeda dengan sifat keraskepala). Keyakinannya terhadap suatu hal dipegang erat, walaupun orang lain menghujat atau menghinanya. Bahkan rela sampai mati!

Salah satu mendiang guru kami, sampai akhir hayat tetap merelakan dirinya dipanggil paranormal (shaman) atau dukun. Beliau enggan mengganti nama/gelar yang sok agamis ataupun memoles ilmunya dengan istilah-istilah Islami. Ia tidak terpancing oleh ucapan orang lain yang mengecapnya sesat, pelaku bid’ah, klenik atau cibiran sinis lainnya. Karena pada kenyataannya beliau mengakui memang pelaku ilmu magis. Namun beliau pernah berkata, “biarkanlah kata orang, sejatinya yang tahu kebenaran tentang diriku hanyalah aku dan Gusti Allah saja.”

Lihatlah sosok almarhum Mbah Marijan, yang dikenal masyarakat sebagai sang juru kunci Gunung Merapi Jogjakarta yang tetap kukuh dalam memegang prinsip dan apa yang diyakininya sampai mati. Lihatlah sosok para Nabi dan rasul yang rela mati demi mempertahankan apa yang diyakininya. Mereka adalah tipe sosok para guru yang telah menemukan jatidirinya, pondasi hidupnya kuat, setia dengan apa yang sudah diyakininya. Dari sosok seperti mereka, guru yang dapat ditimba kedalaman ilmu hikmahnya.

Dari pengenalan jati diri itulah nanti akan dapat mengenal orang lain & alam dengan pandangan yang lebih objektif. Lalu bisa menilai dan memberi ijazah ilmu yang tepat sesuai dengan kondisi orang tersebut. Begitulah analogikanya.

Jadi untuk menjadi seorang Guru tidak harus mutlak mengerti dunia ghaib, bisa trawangan atau meraga sukma dan semacamnya. Tetapi harus mengerti jatidirinya dan mengerti (menguasai) tentang ilmu yang hendak diiijazahkan.
Semoga bermanfaat.
Nuwun,

              ttd
   Ki Syah Rizal

KAJIAN HIZIB & AZIMAT

Mensikapi Hizib & Azimat

Halal-Haram Memakai Hizib dan Azimat

 

                      Mengamalkan doa-doa, hizib dan memakai azimat pada dasanya tidak lepas dari ikhtiar atau usaha seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa kepada Allah SWT. Jadi sebenanya, membaca hizib, dan memakai azimat, tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sangat menganjurkan seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
  
اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kamu, niscaya Aku akan mengabulkannya untukmu”. (QS al-Mu’min: 60)

Ada beberapa dalil dari hadits Nabi yang menjelaskan kebolehan ini. Diantaranya adalah:

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأشْجَعِي، قَالَ:” كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ
الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟
فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ
يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab,

Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di  dalamnya tidak terkandung kesyirikan.” (HR Muslim [4079]).

Dalam At-Thibb an-Nabawi, al-Hafizh al-Dzahabi menyitir sebuah hadits:

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

”Apabila salah satu di antara kamu bangun tidur, maka bacalah (bacaan yang artinya): Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya, dari godaan syetan serta dari kedatangannya padaku. Maka syetan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut.”

Abdullah bin Umar mengajarkan bacaan tersebut kepada anak­anaknya yang baligh. Sedangkan yang belum baligh, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya. (At-Thibb an-Nabawi, hal 167).

Dengan demikian, hizib atau azimat dapat dibenarkan dalam agama Islam. Memang ada hadits yang secara tekstual mengindikasikan keharaman menggunakan azimat, misalnya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ

Dari Abdullah, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “‘Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad [3385]).

Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar, salah seorang pakar ilmu hadits kenamaan, serta para ulama yang lain mengatakan:

Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qur’an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepado-Nya.” (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181).

lnilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan, hizib serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat.

A-Marruzi berkata, ”Seorang perempuan mengadu kepada Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri, basmalah, surat al-Fatihah dan mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas).” Al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas, basmalah, bismillah wa billah wa Muthammad Rasulullah, QS. al-Anbiya: 69-70, Allahumma rabbi jibrila dst. Abu Dawud menceritakan, “Saya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil.” Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis QS Hud: 44 di dahinya orang yang mimisan (keluar darah dati hidungnya), dst.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah wal Minah al-Mar’iyyah, juz II hal 307-310).

Namun tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya, ada tiga ketentuan yang harus diperhatikan.
  1. Harus menggunakan Kalam Allah SWT, Sifat Allah, Asma Allah SWT ataupun sabda Rasulullah SAW.
  2. Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.
  3. Tertanam keyakinan bahwa ruqyah itu tidak dapat memberi pengaruh apapun, tapi (apa yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT. Sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja.” (Al-Ilaj bir-Ruqa minal Kitab was Sunnah, hal 82-83).

Menerima Pasien Jarak Jauh !!!


                   ttd




          Ki Syah Rizal

KAJIAN SUKSES ILMU GHOIB

Kunci Sukses Belajar Ilmu Ghoib

 === PAHAMI 4 PERKARA ===



                 Agar suatu kegiatan itu dapat berjalan dengan baik & lancar dan berhasil dengan sukses maka dibutuhkan suatu rencana atau persiapan yang matang. Begitu pula dalam mempelajari ilmu-ilmu hikmah / ilmu keghoiban (Jawa: Ngelmu). Seseorang yang hendak belajar ngelmu tidak boleh tergesa-gesa, supaya tidak terjadi kesimpang siuran (menyimpang/sesat) dan kacau balau (gila). Upaya pertama yang harus dilakukan oleh calon murid adalah kesiapan batin. Dalam hal ini ada baiknya diawali dengan berkonsultasi dengan orang yang telah ahli dalam ilmu gaib dan juga kepada ahli ilmu agama yang diyakininya.

              Dalam mempelajari ngelmu dibutuhkan suatu persiapan supaya tahu terapan ilmu batin tersebut. Dengan jalan, memperhatikan dan memahami maknanya. Duduk dengan tenang, penuh kesadaran, pahami apa yang sedang dilakukan. Tentu saja sedang mempersiapkan diri untuk mempelajari suatu ngelmu. Persiapan yang penting untuk belajar ngelmu adalah tahu betul bahwa dirinya telah siap untuk belajar.

               Kemudian berkonsentrasi fikiran barulah menelaah fatwa-fatwa ajaran yang tersirat dari ngelmu tersebut. Kalau tidak dapat berkonsentrasi maka akan kacau balaulah akibatnya dan gagallah yang akan didapat. Setelah dapat berkonsentrasi, barulah memulai dengan petunjuk yang utama terdiri dari empat perkara.

Jadi jika disimpulkan syarat keberhasilan bagi yang akan memperdalam suatu ilmu hikmah atau ngelmu adalah sebagai berikut:
  • Sadar, bahwa dirinya akan mempelajari ngelmu mistik (gaib).
  • Konsentrasi fikiran, jangan tumpangsuh fikirannya.
  • Faham arti empat perkara, yaitu:
  1. Mantep, artinya mantap dengan penuh keyakinan untuk mempelajari ilmu tersebut.
  2. Temen, artinya tekun atau bersungguh-sungguh
  3. Gelem nglakoni, artinya mau menjalani, walau apapun yang terjadi tetap menghayati ngelmu tersebut.
  4. Ojo gumunan, artinya jangan mudah heran atau terpukau, terpesona, terhadap keajaiban yang ditimbulkan oleh ngelmu.
Karena bila rasa heran itu timbul / muncul, maka proses ngelmu itupun akan berhenti. Dampak dari gumun (heran) itu adalah hancurnya konsentrasi.

Bila terapan ilmu batiniah itu telah dipahami benar maka sudah saatnya untuk memulai. Dengan bermodalkan ketekunan dan sabar maka ngelmu itu akan berhasil dipelajari.

Renungkan dengan kesungguhan hati, untuk merenungi tuntunan ngelmu ini. Pada titik jenuh, maka akan terbukalah keberadaan.


 Dapatkan IJAZAH ILMU anda pasti bisa dalam sekejap !!!

                        ttd
              Ki Syah Rizal

KAJIAN RAHASIA HARI

KAJIAN RAHASIA HARI



                Kajian kali ini akan membahas tentang rahasia hari. Tentu saja kajian ini yang akan dibahas adalah yang berkaitan dengan bidang yang kita geluti yaitu ilmu hikmah. Bukan dikaji secara mendetail dari sisi ilmiah (sains). Walaupun tetap memakai dasar ilmu alam (sains).

           Dengan mempelajari “Kajian Rahasia Hari” kita akan mengetahui rahasia-rahasia dibalik pemakaian hari dalam sebuah ritual amalan ilmu hikmah. Khususnya Aji mantra Jawa, sebab latar belakang pengetahuan saya adalah mistik budaya Jawa. Bahkan dengan dasar kajian ini bisa sampai digunakan untuk mengenali watak seseorang berdasarkan hari kelahirannya.

Mungkin pernah terbesit rasa ingin tahu dalam benak anda: mengapa amalan ilmu A dimulai hari Senin, Amalan ilmu B diawali hari Selasa dan lain sebagainya.

                 Penentuan hari dalam suatu ritual atau amalan ilmu memiliki dasar alasan. Para leluhur dan pinisepuh ilmu kebatinan tidaklah sembarangan dalam memberi tuntunan ilmu. Walaupun terkadang sulit diterima nalar, tetapi setidaknya selalu memiliki dasar alasan.

             Seperti yang pernah saya katakan dalam artikel “Rahasia di balik Rahasia”. Bahwa: Tak semua Guru paham, tak semua murid mengerti, tak semua pengamal ilmu tahu. Hanya mereka yang senantiasa mengikuti petunjuk Maha Guru, memurnikan tuntunan ilmunya tanpa dicampuri angan dan keinginan (merubah-ubah) yang akan mengerti Rahasia dibalik tuntunan ilmu. Diantaranya adalah “Rahasia Hari”

Pergerakan Alam

            Dalam pandangan ahli ilmu hikmah setiap fenomena alam memiliki rahasia dan akan mencerminkan watak (karakter) tersendiri. Termasuk fenomena perubahan “hari” dalam sistem penanggalan. Mengapa bisa demikian? Dikarenakan gerakan bumi tidak pernah berhenti, maka setiap detik posisinya berubah. Untuk kembali pada posisi yang sama, membutuhkan siklus waktu tertentu. Sirklus jam, sirklus hari, bulan, tahun, pasaran (Legi, Pon dsb), Wuku dan lain sebagainya. Pada intinya setiap siklus berhubungan dengan posisi orbit bumi.

                    Dengan latar belakang tersebut, maka kelahiran manusia dan kejadian di alam semesta ini (misalnya musim) dengan sendirinya akan menempati salah satu siklus diantara siklus-siklus yang ada. Misalnya manusia yang dilahirkan pada hari Senin, akan masuk ke dalam siklus Senin yang telah dihuni oleh banyak orang sebelumnya, yang lahir pada hari yang sama. Oleh karena itu secara umum mereka menjadi satu wadah yang bernama siklus. Maka berdasarkan ‘Ilmu Titen’ atau ilmu hasil dari mengenali / mengamati dan terus berlangsung turun-temurun, watak seseorang atau pergerakan alam secara garis besar dapat dikenali bahkan diprediksi.

Sirklus Jam

Hari dalam bahasa Jawa disebut “dina” (dino). Sebagaimana telah kita ketahui bahwa satu hari adalah sebuah unit waktu yang diperlukan bumi untuk berotasi (berputar) pada porosnya sendiri.

 

Unit waktu ini bisa berupa detik, menit ataupun jam. Jaman sekarang 1 hari = 24 jam, atau jika dihitung dalam menit, 1 hari = 1440 menit. Jika dihitung dalam detik, 1 hari = 86400 detik.

Jadi Bumi membutuhkan waktu 24 jam untuk sekali berputar pada porosnya. Akibat rotasi ini terjadilah fenomena siang dan malam. Dimana bagian sisi bumi yang menghadap Matahari mengalami masa Siang (terang), sedangkan bagian sisi bumi yang membelakangi Matahari mengalami masa Malam (gelap).
 

                Jutaan tahun yang lalu 1 hari tidak berlangsung lama seperti sekarang ini (24 jam) mungkin hanya 18 jam saja. Penyebabnya karena Rotasi bumi ketika itu berlangsung lebih cepat. Sebab jarak Bulan (Moon) dengan Bumi lebih dekat daripada jarak sekarang. Begitu pula sebaliknya, dimasa yang akan datang (jutaan tahun lagi) 1 hari bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam. Sebab jarak Bumi dan Bulan semakin menjauh, akibatnya bumi berrotasi lebih lambat. Setiap fenomena alam yang terjadi akan membawa dampak pengaruh bagi penghuni alam khususnya manusia.

Sirklus Tujuh Hari = seminggu

              Mencari tahu asal muasal “1 minggu = 7 hari” tidaklah mudah. Cukup sulit mencari kebenaran teori dibalik penentuan “1 minggu = 7 hari”. Banyak teori yang berbeda-beda bahkan saling berseberangan. Ada yang berdasar ajaran agama (kitab suci), Mitos Dewa-dewa penguasa 7 planet, praktek perhitungan geometri primitif dan lain sebagainya.

                     Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua bangsa meyakini “1 minggu” terdiri dari 7 hari. Misalnya, orang Mesir kuno memakai hitungan 1 minggu = 10 hari. Kalender Maya memakai 13 dan 20 hari dalam seminggu. Orang Lithuania memakai 9 hari dalam seminggu, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan siklus hari dalam budaya Jawa?

Sirklus Hari dalam penanggalan Jawa.

                    Sedangkan dalam budaya Jawa, sistem sirklus hari ada bermacam-macam. Sebenarnya jaman dahulu orang Jawa kuno mengenal 10 jenis minggu. Dari seminggu yang jumlahnya hanya satu hari, hingga Seminggu yang jumlah harinya terdapat 10 hari. Nama macam-macam minggu tersebut adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Hastawara, Nawawara dan Dasawara.
Untuk lebih jelasnya perhatikan perumusan tata penanggalan Jawa sebagai berikut :
  • Perhitungan hari dengan siklus 5 harian disebut sebagai Pancawara – Pasaran. (Artinya dalam 1 minggu (Pancawara) hanya ada 5 hari)
  • Perhitungan hari dengan siklus 6 harian disebut Sadwara – Paringkelan.
  • Perhitungan hari dengan siklus 7 harian disebut Saptawara – Padinan.
  • Perhitungan hari dengan siklus 8 harian disebut Hastawara – Padewan
  • Perhitungan hari dengan siklus 9 harian disebut Sangawara – Padangon
  • Perhitungan hari dengan siklus mingguan (7 hari) terdiri 30 minggu disebut Wuku.
                    Namun jaman sekarang yang biasa dipakai hanya 2 jenis minggu saja, yaitu Pancawara (pasaran) dan Saptawara (Padinan). Misalnya Senin Legi, Selasa Pahing dan seterusnya. Perubahan penanggalan Jawa ini terjadi masa pemerintahan Sultan Agung Prabu Hanyakrakusumo di Kerajaan Mataram Islam Jawa Tengah. Saptawara dipakai karena dinilai universal (sirklus 7 hari). Sedangkan Pancawara tetap dipakai karena melambangkan jati diri manusia Jawa yang berbudaya.

Dalam kajian kali ini kita hanya akan membahas Perhitungan hari dengan siklus 7 hari. Atau dalam bahasa Jawa disebut Saptawara (Padinan) dan Sirklus 5 hari (Pancawara).

Dalam kitab Primbon, dijelaskan orang Jawa percaya bahwa hitungan 7 hari dalam seminggu bermula ketika Tuhan menciptakan alam semesta ini dalam 7 tahap. Dimana tahap pertama diawali hari Ahad (Minggu).
  • Pertama, Ketika Tuhan memiliki kehendak ingin menciptakan dunia. Kehendak Tuhan ini lalu disimbolkan dengan MATAHARI yang bersinar sebagai sumber kehidupan.
  • Kedua, ketika Tuhan menurunkan kekuatanNYA untuk menciptakan dunia. Kekuatan Tuhan itu lalu disimbolkan dengan BULAN yang bercahaya tanpa menyilaukan.
  • Ketiga, Ketika kekuatan Tuhan tadi mulai menyebarkan percik-percik sinar Tuhan. Percik sinar Tuhan itu lalu disimbolkan dengan API yang berpijar.
  • Keempat, Ketika Tuhan menciptakan dimensi ruang untuk wadah alam semesta. Dimensi ruang itu lalu disimbolkan dengan BUMI menjadi tempat makhluk hidup.
  • Kelima, Ketika tuhan menciptakan panas yang menyalakan kehidupan. Panas yang menyala itu lalu disimbongkan dengan ANGIN yang bergerak dan petir yang menyambar.
  • Keenam, Ketika tuhan menciptakan air yang dingin. Air yang dingin itu lalu disimbolkan dengan BINTANG yang mirip titik-titik air yang menyejukan.
  • Ketujuh, Ketika Tuhan menciptakan unsur materi kasar sebagai dasar pembentuk kehidupan. Materi kasar itu lalu disimbolkan dengan AIR sebagai sumber kehidupan.
Perlu dipahami bahwa penyebutan elemen (anasir) ini hanyalah sebagai simbol. Bukan merupakan urutan kejadian alam semesta itu sendiri. Simbol inilah yang nantinya digunakan dalam mengenali watak (karakter) hari.

Arti Nama Hari

Dalam penyebutan nama-nama hari disetiap bangsa juga memiliki perbedaan. Dan tentu saja memiliki makna dan alasan tersendiri. Sedangkan nama hari dalam penanggalan Jawa sejak masa pemerintahan Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Kerajaan Mataram Islam memakai istilah Arab yang sudah dilafalkan dalam lidah Jawa. Sebelumnya nama hari masih memakai istilah Jawa kuno yaitu :

Nama Hari Siklus 7 hari, Saptawara = Padinan:
  • Radite      = Akad
  • Soma        = Senen
  • Anggara   = Slasa
  • Budha       = Rebo
  • Respati     = Kemis
  • Sukra        = Jemuwah
  • Tumpak/Saniscara = Setu
Asal kata dan Arti nama Hari (Padinan)
  • Akad (minggu), berasal dari kata Arab “ahad”, yang berarti hari pertama.
  • Senen (Senin), berasal dari kata Arab “istnain”, yang berarti hari kedua.
  • Slasa (Selasa), berasal dari kata Arab “tsalatsah”, yang berarti hari ketiga.
  • Rebo (Rabu), berasal dari kata Arab “arba’ah”, yang berarti hari keempat.
  • Kemis (Kamis), berasal dari kata Arab “khamsah”, yang berarti hari kelima,
  • Jemuwah (Jum’at), berasal dari kata Arab “jumu’ah”, yang berarti hari untuk berkumpul,
  • Setu (Sabtu), berasal dari kata Arab “sab’ah” (sabat), yang berarti hari ketujuh.
               Jelas bahwa nama-nama hari yang sampai sekarang digunakan itu (Senin, Selasa dst) merupakan perpaduan peradaban Islam dan kebudayaan Jawa. Dipakai sejak pergantian Kalender Jawa asli (Tahun SAKA) menjadi kalender Jawa Sultan Agung (Anno Javanico – Tahun AJ). Pergantian kalender itu mulai 1 Sura, tahun Alip 1555. Yang jatuh pada tanggal 1 Muharam 1042. Atau bertepatan dengan kalender Masehi 8 Juli 1633. Angka tahun AJ itu meneruskan angka tahun Saka yang waktu itu sampai tahun 1554, sejak itu tahun Saka tidak dipakai lagi di Jawa, tetapi hingga kini masih digunakan di Bali.
 
                      Tahun Jawa dan tahun Islam (hijriyah) adalah penanggalan Qomariyah atau sistem Lunar (bulan) yang mengikuti peredaran bulan kepada bumi. Maka perhitungan hari pun dimulai pada senja hari, saat awal munculnya rembulan malam atau saat Maghrib.

Sedangkan tahun Masehi dan tahun Saka Hindu adalah penanggalan Syamsiyah atau sistem solar (Matahari) yang mengikuti peredaran bumi terhadap Matahari. Pergantian hari dalam penanggalan Masehi yang dimulai pada pukul 12 malam.
 
Untuk diketahui, dalam amalan ilmu-ilmu Rasa Sejati ini juga memakai penanggalan Jawa & Islam yaitu memakai sistem Lunar (bulan), perhitungan hari dimulai saat Maghrib.


 Menerima Pasien Jarak Jauh !!!

                     ttd


            Ki Syah Rizal

KAJIAN ILMU PELET

ILMU PELET





             Tidak bisa dipungkiri meski kita hidup dijaman era teknologi dan internet, tapi sebagian masyarakat dinegeri ini masih ada yang mengamalkan ilmu Pelet. Karena urusan “cinta” memang tidak terpengaruh oleh jaman. Akan selalu menarik untuk diselami dijaman apa saja.

            Istilah “Cinta Ditolak Dukun bertindak” sekarang saya ganti menjadi “Cinta Ditolak, Ilmu Pelet bertindak” hehehe… Boleh-boleh saja tho? Lha..dijaman serba internet sekarang ini untuk mendapatkan ilmu pelet tidak harus datang ke dukun koQ. Sudah banyak ilmu-ilmu pelet yang dijabarkan didunia maya ini. Walaupun banyak juga yang ngawur, baik riwayat, rapal doa/mantera maupun ngawur tatacara ritualnya. Tak heran bila banyak yang gagal, akhirnya merasa tertipu ilmu ghaib, dan akhirnya malah bikin tambah ruwet masalah.

                    Ilmu Pelet apapun itu jenis rapal manteranya, media peletnya dan cara penggunaannya tapi cara kerjanya sama. Mirip seperti hipnotis yang sering Romy Rapael lakukan di TV itu. Cuma bedanya bila hipnotis itu tidak menggunakan Aji Mantera, tanpa ritual yang aneh-aneh untuk mempengaruhi korbannya. Sedangkan Ilmu Pelet kebanyakan menggunakan mantera, ritual atau benda tertentu (jimat) untuk dapat mempengaruhi orang yang jadi sasaran pelet. Lebih ekstrimnya Ilmu Pelet itu mempunyai kesan “memaksa”. Tapi keduanya mempunyai kesamaan, yaitu mempengaruhi alam bawah sadarnya seseorang.

                        Jadi Ilmu Pelet artinya ritual ilmu yang mengandung kekuatan ghoib untuk menebarkan hasrat yang diinginkan, menaklukan hati seseorang agar menjadi cinta, namun cenderung memiliki unsur pemaksaan. Kenapa disebut pemaksaan, karena kerja ilmu pelet itu mendayagunakan kekuatan gaib yang dapat mengambil alih kontrol pikiran sang korban. Sehingga yang awalnya benci seketika setelah terkena ilmu pelet langsung bisa berubah menjadi cinta. Awalnya sombong menjadi takluk setengah mati mengemis cinta. Bahkan bisa gila bila tidak ditemui oleh orang pelaku ilmu Pelet. Dari sini tampak jelas, ada unsur pemaksaan, perubahan jiwa (cinta) tidak natural, tidak berjalan alami. Dan hanya dengan media kekuatan gaib yang bisa melakukannya.

                      Contohnya adalah seseorang yang terkena Ilmu Pelet Jaran Goyang (Jaran= kuda), maka orang tersebut akan menjadi tergila-gila, cinta setengah mati kepada sang pelaku pelet, sering mengigau memanggil-manggil nama pelaku pelet tadi. Dan bila dalam jangka waktu tertentu tidak ditemui oleh sang pelaku pelet maka korban bisa saja gila beneran. Korban akan menjadi tenang setelah  pelaku pelet memberinya obat penawar, biasanya berupa air putih yang telah dibacakan mantra Penawar Ajian Jaran Goyang. Saat itu korban tidak lagi mengigau tidak jelas seperti orang gila, akan menjadi kelihatan normal namun tetap dalam pengaruh pelet Jaran Goyang.

Berikut Ajian Jaran Goyang yang pernah saya dapatkan dulu ketika masih gandrung (suka) berburu ilmu-ilmu gaib. Saya dokumentasikan hingga sekarang.

“Sun matek ajiku si Jaran Goyang tak goyang ing tengah latar upet-upetku lawe benang pet sabetake gunung gugur, pet sabetake lemah bangka, pet sabetake segara sat, pet sabetake ombak gede sirep, pet sabetake atine si ….bin… cep sido edan ora mari-mari yen ora ingsun sing nambani.”

Mantera pengobatannya:

“Sun matek ajiku si Jaran Goyang, Kaki danyang Nyai danyang kompi jenggot sing nempel neng engone si…balio nang….(dan seterusnya).

Nampak jelas, dari rapal manteranya, korban akan menjadi gila bila tidak diberi penawar oleh sang perapal ilmu Ajian JaranGoyang. Dari mantera penawarnya, sang perapal Ajian pelet ini menyuruh pergi (balik) makhluk halus dari Ajian Jaran Goyang yang bersemayam di badan sang korban.

                  Untuk mendapatkan ilmu Pelet, sekarang tidak sulit lagi, tidak perlu ke dukun, seperti yang saya katakan diatas. Kemajuan teknologi memberi berbagai kemudahan untuk mendapatkan berbagai informasi. Tak terkecuali tentang Ilmu Pelet. Meski banyak juga yang mengajarkan ilmu setengah-setengah, tanpa mantera penawarnya. Entah apa jadinya kalau benar-benar diamalkan, tahu-tahu korban jadi gila teriak-teriak memanggil nama sang pelaku pelet, apa tidak malu tuh? Ketahuan donk kalau sedang pake ilmu Pelet. 

Intinya darimana pun ilmu Pelet itu didapat, selama benar rapal mantera, tatacara ritualnya dan syarat-syaratnya terpenuhi, maka tidak mustahil seseorang bisa berhasil menguasainya.

                 Gaya bahasa rapal mantera ilmu Pelet bermacam-macam, biasanya tergantung dari daerah mana mantera pelet itu berasal. Ritualnya biasanya menggunakan puasa Mutih, Ngebleng, Patigeni dll. Media Pelet bisa berupa energi sugesti, bisa juga energi langsung Jin (makhluk gaib), media jimat seperti buluh perindu, minyak mani gajah, boneka (voodoo), rambut, kain yang pernah dipakai sang korban, atau kain mori dari orang mati dan sebagainya.


   Menerima Pasien Untuk Pelet Orang !!!

                             ttd


                    Ki Syah Rizal

ILMU HURUF

ILMU HURUF


             Untuk mempelajari huruf hijaiyah tentu kita harus mengetahui terlebih dahulu huruf-hurufnya. Huruf hijaiyah terbagi menjadi 28 makhraj (pengucapan huruf). Jika selama ini kita mengenal susunan huruf Arab dari ALIF sampai YA (A-Ba-Ta-Tsa), itu adalah urutan huruf Arab yang disusun dan dikelompokkan menurut kemiripan bentuknya. Namun sebenarnya urutan huruf Arab yang sesungguhnya adalah dari ALIF sampai GHAIN (A-Ba-Ja-Dun atau disingkat ABJAD).

Perhatikan susunan huruf hijaiyah dibawah ini.

 

Dalam ilmu hikmah yang akan kita pelajari, tentu saja urutan huruf Hijaiyah yang dipakai adalah Susunan Abjad atau disebut juga dengan istilah Kaidah Abjadiyyah. Dimana dalam kaidah Abjadiyyah ini, setiap huruf memiliki nilai numerik (angka).

Apa itu nilai numerik? 

Angka yang kita kenal sekarang yaitu angka 1, 2, 3 dan seterusnya sebenarnya dikenal belum lama oleh manusia. Sebelum ada angka-angka tersebut (1,2,3 dst) orang melakukan penghitungan berdasarkan simbol atau karakter yang merepresentasikan sebuah angka.

Pada awalnya dijumpai angka-angka yang diucapkan dan angka-angka yang disimbolkan dengan jari tangan (diindikasikan oleh posisi tangan dan jari-jari). Bahkan sampai sekarang masih ada segolongan suku di Indonesia yang masih menggunakan metode ini, misalnya cara jual beli sapi di Madura.

Selanjutnya untuk pencatatan secara permanen dan penghitungan diperlukan apa yang disebut sebagai “NUMERAL” yang merupakan sebuah simbol atau karakter yang digunakan untuk mewakili sebuah bilangan. Misalnya, dalam sistim Romawi angka “SATU” disimbolkan (ditulis) dengan huruf “I”. Angka “LIMA” disimbolkan “V”, Sepuluh=X, Limapuluh=L, Seratus=C, Limaratus=D, dan Seribu=M. Bila kita menemukan tulisan Romawi misalnya “MCMLXXV” itu maksudnya adalah angka “1975”.

Jadi Nilai numerik adalah nilai yang melekat pada huruf-huruf atau simbol. 

 Nilai numerik dari setiap huruf Arab dapat dilihat pada table di bawah.

 

Jika kita memperhatikan sistem angka tersebut.
  • Angka-angka itu adalah 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9.
  • Maka kita perlu mengulang angka-angka itu lagi untuk menjadi 10 (puluhan), 100 (ratusan), 1000 (ribuan).
  • Misalnya, untuk membuat angka 10, kita memilih 1 dan 0 dari deretan digit tunggal (0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9).
  • Sehingga, angka 9 adalah angka digit tunggal terakhir.
  • Sistem per-angka-an normal adalah tak terbatas. Kita seringkali menyebut angka ratusan, ribuan, jutaan, milyaran, dan seterusnya. Namun tidak terdapat “satu angka besar ” yang dapat disebut sebagai angka terakhir yang setelah itu tidak ada lagi angka lain.
  • Dari sinilah angka 9 digunakan sebagai digit terakhir, tanpa ulangan.
Kaidah Abjad dan nilai numerik ini dipergunakan untuk menghitung nilai suatu nama, Asma Allah dan ayat-ayat Al-Quran. Misalnya dalam bacaan wirid-wirid Asmaul Husnah kita sering menemui jumlah angka wiridnya.

Contoh:  Asma Allah “AL KHOBIR” dibaca “Yaa KHOBIR” sebanyak 812 kali. “AL LATHIIF” dibaca  “Ya Lathiif” sebanyak 129 kali, Kalimat Basmalah dibaca 786 kali dan sebagainya. Angka-angka tersebut didapat dengan cara dihitung (hisab) dengan kaidah Abjadiyyah. Simak penjelasan berikut ini.

Cara Menghitung (Hisab) Huruf Asma Al Husna dan Ayat-ayat Suci

Misalnya: Asma AL KHOBIR :
 

Kata Asma AL KHOBIR dipisahkan perhuruf, yaitu: alif – lam – kho – ba – ya – ro.

Huruf alif dan lam pada AL tidak dihitung, jadi yang dihitung kata dasarnya (KHOBIR = KHO – BA – YA – RO).

Dari tabel Nilai Numerik Huruf Arab (Abjad) didapatkan:

kho nilainya = 600
ba nilainya = 2
ya nilainya = 10
ro nilainya = 200 +
Jumlahnya = 812


Contoh 2 : Asma AL LATHIIF :

 

Contoh Lain: Bismillahirrohmanirrohim :

 

Inilah rahasia bacaan Bismillahirrohmanirrohim secara masyhur dibaca 786 kali. Para ulama terdahulu menghitungnya berdasarkan Kaidah Abjadiyyah ini.

Demikianlah salah satu kegunaan dari Ilmu Huruf Kaidah Abjadiyah ini, dan tentu saja dalam ilmu hikmah, kaidah ini masih banyak aplikasi pemakaiannya, misalnya sebagai dasar ilmu menulis wafaq (rajah).


                       ttd


           Ki Syah Rizal

KAJIAN ILMU PUTIH HITAM

Antara Ilmu Hitam dan Putih

 

 

             Ilmu Hitam jelas berbeda dengan ilmu putih. Ia tidak bisa disekutukan lalu menjadi abu-abu, seperti cat tembok. Antara ilmu hitam dan ilmu putih lebih menyerupai papan catur. Bisa berdampingan tetapi sesungguhnya berlawanan.

Ilmu hitam dan ilmu Putih mempunyai perwatakan yang berbeda. Ilmu hitam cenderung merugikan, sedangkan putih membahagiakan.

Lelaku

             Persyaratan ilmu hitam sangat akrab dengan dunia kematian. Untuk mendapatkan kesaktian, seorang pelaku ilmu hitam akan melakukan tapa brata di tempat angker atau kuburan dan bersekutu dengan makhluk gaib sang penunggu tempat angker tersebut.

              Para memuja Bethari Durga (Ilmu Leak), konon akan berubah menjadi bola api, dan terbang menembus gelapnya malam untuk mencari mangsa, yaitu berupa darah segar dari tubuh bayi yang baru lahir.

Para pemburu Pesugihan, akan memberikan tumbal nyawa kepada setan yang dimintai kekayaan. Tumbal bisa berupa binatang ternak, atau nyawa manusia.

             Seorang pencuri akan mengambil tanah kuburan agar berhasil sukses melakukan pencurian. Tanah kuburan tersebut berfungsi sebagai prasarana ajian sirep. Tuah ajian sirep dapat melelapkan seluruh penghuni rumah, sehingga pencuri bisa bergerak leluasa.

               Upacara ritual ilmu hitam biasanya juga diselubungi kengerian sebagaimana persyaratannya. Tidak hanya sekedar doa dan mantra, namun juga harus dilengkapi dengan candu, opium, atau minuman berakhohol tinggi. Tak jarang pula diperlukan kucuran darah manusia. Bisa darahnya sendiri, bisa pula darah orang lain yang jadi korban.

             Sungguh berbeda dengan ilmu putih. Ritual dapat dilakukan dimana saja asalkan ditempat yang bersih dan suci. Persyaratannya mudah dicari, seperti air putih, garam, kembang (bunga), wewangian (minyak wangi, dupa, kemenyan) dll. Dan syarat itupun tak mutlak harus ada. Jika punya ya disertakan, kalau tidak ada pun ilmu putih tetap bisa bekerja. Karena intinya terdapat pada rapal mantera, sebagai bentuk permohonan kepada Yang Maha Pencipta. Dalam ilmu putih memang masih menyisakan ruang bagi Tuhan.

Ilmu Hitam Tidak Abadi

          Ilmu gendam merupakan bagian kekayaan dari ilmu hitam. Salah satu jenisnya sering dipraktekan dijalanan, dipasar, diterminal atau tempat keramaian lainnya. Ilmu gendam mengacaukan mekanisme kesadaran sang korban. Sehingga korban tidak menolak jika diminta, tidak marah walau ditipu.

             Namun ilmu hitam tidak abadi, dalam jangka waktu dan jarak tertentu efeknya akan hilang. Sang korban akan kembali sadar ketika pelaku ilmu gendam telah pergi jauh. Jin yang menempati tubuh sang korban akan “oncat” dari tubuh korban. Untuk kembali mengikuti pemilik ilmu gendam setelah waktu tertentu atau jarak radius tertentu. Ilmu Pelet juga sama seperti ilmu gendam dan sirep.
Ajian sirep Begananda yang diamalkan oleh para pencuri juga begitu. Efek sirepnya hanya bekerja sampai sebelum fajar menyingsing. ”…sakdurunge ana handarageno soko wetan”. Sebelum ada Matahari (terbit) dari timur. Perhatikan juga rapal Mantera Ajian Sirep Megananda ini: “…aja tangi yen durung ana geni saka langit pitu,” Jangan bangun sebelum ada api dari langit tujuh (matahari).

Ilmu santet dan tenung, akan berakhir ketika setan yang menempati tubuh sang korban, telah pergi (balik) atau telah dibinasakan.

Karakter ilmu dan Manusia

              Ilmu kebathinan (Hitam atau Putih) akan mempengaruhi tingkah laku dan watak seseorang. Karena ilmu juga memiliki perwatakan, bersemayam pada diri manusia dengan perwatakan sama. Perwatakan yang berbeda tidak bisa dipaksakan menempati ruang jiwa yang sama. Artinya seseorang yang berwatak jahat, culas, licik akan bersekutu dengan kekuatan ilmu hitam. Watak kesatria akan memilih aliran putih.

            Orang berwatak jahat hanya bisa minta tolong kepada dukun aliran hitam untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapinya. Jika memaksakan diri untuk ditolong oleh dukun aliran putih, niscaya cuma akan memperoleh nasehat-nasehat moral.

              Karena pemilik ilmu putih cenderung berkata jujur, pembela kebenaran yang sejati, tidak mau menyimpang dari jalan kebenaran dan menempuh cara-cara yang sesuai dengan kebenaran dalam mengatasi masalah.

Bila melakukan penyimpangan niscaya ilmu putihnya akan hilang. Atau akan terjadi pertentangan didalam batin yang akan membuat dirinya stress dan akhirnya jadi gila. Tidak akan berakhir sebelum melepas ilmu gaibnya. Saya pribadi pernah mengalaminya. Oleh karena itu saya bisa memetik hikmah dan mengerti.

Mitos orang berilmu hitam tapi berperilaku baik, bakal mengubah ilmunya menjadi putih atau sebaliknya, adalah lelucon ringan di kalangan dunia kebatinan. Rumusan ngawur seperti itu, tidak ada dalam kamus alam ghaib. Hitam tetap hitam. Putih jadi putih.


                  ttd
        Ki Syah Rizal